49. Jayadrata Harus Ditumpas Sumpah Arjuna bahwa ia akan membunuh Jayadrata,Sputra Raja Wridaksatra, sebelum matahari terbenam terdengar ole...

49. Jayadrata Harus Ditumpas





49. Jayadrata Harus Ditumpas

Sumpah Arjuna bahwa ia akan membunuh Jayadrata,Sputra Raja Wridaksatra, sebelum matahari terbenam terdengar oleh pihak Kurawa lewat mata-mata mereka.

Pada waktu Jayadrata lahir, ayahnya mendengar suara gaib yang berkata, “Kelak bayi ini akan mencapai kemasy­huran dan kebesaran, dan akan tewas di tangan musuh-nya dalam suatu pertempuran besar. Dengan demikian, ia akan mencapai tempat yang layak bagi seorang kesatria di alam baka. Ia akan menemui ajalnya dengan kepala terpisah dari tubuhnya.”

Raja Wridaksatra sedih mendengar suara gaib yang meramalkan kematian anaknya kelak. Dengan hati kusut dan pikiran kacau ia mengucapkan kutuk-pastu, “Siapa yang kelak menyebabkan kepala anakku terguling-guling di tanah, kepalanya akan pecah berantakan.”

Ketika Jayadrata telah dewasa, Raja Wridaksatra me-nyerahkan Kerajaan Sindhu kepadanya. Kemudian ia menyepi ke hutan untuk bertapa. Hutan tempatnya ber-tapa kebetulan dekat dengan padang Kurukshetra, tempat berlangsungnya perang besar Bharatayuda.

“Aku tidak ingin terlibat lagi dalam peperangan ini. Aku akan kembali ke negeriku,” kata Jayadrata kepada Duryo­dhana setelah mendengar berita tentang sumpah Arjuna.

“Jangan khawatir, Saudaraku. Semua kesatria perkasa ada di pihak kita. Kami senantiasa siap melindungimu jika keselamatanmu terancam. Karna, Citrasena, Bhurisrawa, Salya, Drona, Syakuni, Purumitra, Satyawrata, Duhsasana, Wikarna, Durmukha, Subahu, Awanti, dan aku sendiri siap membelamu. Hari ini aku akan mengerahkan seluruh balatentara Kurawa untuk melindungimu dari serangan








Arjuna. Jangan khawatir, engkau tidak perlu pergi hari ini,” kata Duryodhona membujuk Jayadrata agar tidak meninggalkan perkemahan Kurawa.

Untuk meyakinkan diri, Jayadrata pergi menemui Mahaguru Drona. Ia berkata, “Mahaguruku, engkau telah mengajar kami, aku dan Arjuna. Engkau sangat mengenal kami berdua. Bagaimana penilaianmu terhadap kami berdua?”

Drona menjawab demikian, “Anakku, aku telah selesai-kan tugasku sebagai guru, mengajar engkau berdua tanpa pilih kasih. Ajaran yang kuberikan kepadamu dan kepada Arjuna sama. Tetapi, rupanya Arjuna lebih maju karena usahanya sendiri. Ia rajin menempuh berbagai bahaya, mencari pengalaman dan berlatih dengan tekun. Tapi, engkau tidak perlu cemas karena pasukan yang amat kuat akan ditempatkan di depanmu. Arjuna pasti sulit menem-busnya.

“Bertempurlah sesuai tradisi para pendahulumu yang gagah berani. Kematian akan menjumpai kita semua, tanpa kecuali. Kesatria yang mati di medan pertempuran akan mencapai surga dengan mudah. Hilangkan kecema-sanmu dan berjuanglah!”

Setelah berkata demikian, Mahaguru Drona mengatur balatentara Kurawa dalam formasi bunga teratai. Di pusat bunga itu, Jayadrata aman terlindung dan berada kira-kira 180 pal di belakang barisan paling luar. Ia didamping pasukan yang dipimpin Bhurisrawa, Karna, Aswatthama, Salya, Wrishasena dan Kripa.

Lingkaran pasukan paling dalam diatur dalam formasi bunga teratai, langsung dipimpin Drona. Di depannya, berjajar pasukan dalam formasi pakis sebagai pasukan tempur. Mahasenapati Drona naik kereta kebesaran yang ditarik empat ekor kuda berbulu cokelat abu-abu, dihiasi panji-panji lambangnya sebagai mahasenapati. Ia berdiri di kereta, mengenakan mahkota mahasenapati dan membawa busur panah putih cemerlang dan senjata-senjata sakti lainnya. Keperkasaan mahasenapati itu membuat Duryo-dhana yakin bahwa hari itu Kurawa pasti menang.

Demikianlah, di hari keempat belas, dengan kekuatan seribu kereta perang, seratus barisan gajah, tiga ribu barisan pasukan berkuda, sepuluh ribu prajurit peretas jalan, dan seribu lima ratus prajurit penyergap, Kurawa maju ke medan perang. Di ujung depan berdiri Durma-shana, salah satu putra Dritarastra. Ia ditugaskan untuk meniup terompet dan meneriakkan tantangan kepada Arjuna. Tantangan itu diterima Arjuna, yang telah maju sampai sejauh selemparan anak panah dari Durmashana.

Pasukan penyergap yang dipimpin Durmashana kocar-kacir karena mendadak diserang oleh Arjuna. Duhsasana mencoba menolong saudaranya, tetapi dikalahkan Arjuna dan terpaksa melarikan diri, berlindung pada Drona. Arjuna lalu berhadapan dengan Drona. Setelah menyembah gurunya, ia berkata bahwa kedatangannya adalah untuk membalas kematian Abhimanyu dan melaksanakan sum-pahnya untuk membunuh Jayadrata. Kata-katanya dija-wab Drona dengan ucapan bahwa Arjuna takkan bisa maju sebelum berhasil menaklukkan dirinya.

Maka kedua kesatria itu saling membidikkan anak panah. Drona menggunakan panah api, Arjuna membalas dengan panah air. Perang panah itu berlangsung cukup lama. Masing-masing sama saktinya dan sama-sama me-miliki panah sakti. Suatu kali, kedua panah mereka ber-benturan, menimbulkan ledakan dan membuat langit tiba-tiba menjadi gelap.









Pada kesempatan itulah Krishna menasihati Arjuna agar menyelinap, menghindari Drona, lalu menembus pasukan Kurawa dari samping sambil maju sampai ke tempat Jayadrata.

Arjuna berhasil menembus pertahanan Kurawa lalu berhadapan dengan pasukan Negeri Bhoja. Di bawah pimpinan Kritawarma dan Sudakshina, dalam sekejap mata pasukan itu dapat dikalahkan oleh Arjuna. Putra Pandu itu kemudian berhadapan dengan Srutayudha, putra Dewi Parnasa, yang telah bertapa dan memperoleh senjata sakti dari Batara Baruna.

Senjata sakti itu diberikan kepada Srutayudha dengan pesan bahwa tak ada musuh yang akan dapat menak-lukkannya. Tetapi, senjata itu tidak boleh digunakan untuk melawan orang yang tidak bertempur, sebab ia akan berbalik menyerang pemiliknya. Dalam pergulatan mela-wan Arjuna, Srutayudha menggunakan senjata itu untuk menggempur Krishna, sais kereta Arjuna. Ia tidak tahu, Krishna telah bersumpah tidak akan mengangkat senjata dalam pertempuran Bharatayuda. Sewaktu ia membidik-kan senjatanya ke arah Krishna untuk melumpuhkan kereta Arjuna, senjata tersebut berbalik ke arahnya dan menembus dadanya sendiri. Tewaslah Srutayudha.

Raja Negeri Kamboja, saudara Srutayudha, bersama kedua putranya, menggantikannya menghadapi Arjuna. Mereka bertiga gugur di tangan Arjuna yang sedang mengamuk.

Duryodhona cemas melihat cepatnya Arjuna menembus pertahanan Kurawa. Ia segera menemui Drona dan mem­protes sikap mahaguru itu, “Arjuna menyebabkan pasukan kita kocar-kacir. Mereka yang mengelilingi Jayadrata yakin, tidak akan semudah itu Arjuna menerobos pasukan kita. Buktinya, sekarang ia sudah hampir mendekati Raja Sindhu. Para prajuritku sudah kehilangan keberanian. Arjuna dapat melewatimu tanpa perlawanan. Aku yakin, pasti ada yang tidak beres. Rupanya engkau memihak Pandawa dan membiarkan anak Pandu itu menghabisi para prajuritku tanpa perlawanan berarti.

“Ketahuilah, aku telah menahan Jayadrata agar jangan kembali ke negerinya. Sekarang Arjuna akan menggem-purnya. Jayadrata pasti akan menemui ajalnya. Aku mera-sa berdosa. Pergilah engkau dan selamatkanlah nyawa Raja Sindhu.”

Mendengar kata-kata Duryodhona, Drona menjawab, “Tuanku Raja, tak ada gunanya aku menanggapi kata-katamu yang kauucapkan tanpa dipikirkan lebih dahulu.

“Wahai muridku, bagiku engkau tak beda dengan anakku sendiri. Ambil senjata ini dan hadang Arjuna. Aku tidak bisa meninggalkan medan ini, sebab Yudhistira akan segera sampai di sini bersama pasukannya yang paling kuat.

“Lihatlah asap dan debu yang menandakan gerakan pasukan Pandawa. Yudhistira maju tanpa didampingi Arju-na. Ini kesempatan bagi kita untuk menculik dia. Kita tidak boleh membatalkan rencana kita untuk menangkap dia hidup-hidup. Kalau aku pergi menggempur Arjuna, pasukan kita akan berantakan. Pergilah engkau berbekal senjata yang dapat memusnahkan musuh. Kenakan jubah yang tidak bisa ditembus senjata apa pun. Semoga engkau berhasil dan menang!” kata Drona dengan sabar.








Setelah menerima senjata sakti dari Drona dan menge-nakan jubah gaib, dengan diiringkan pasukan amat besar Duryodhona menyerang Arjuna dengan hati mantap.

Sementara itu, Arjuna sudah jauh menembus formasi pasukan Kurawa. Waktu Krishna hendak menghentikan keretanya dan membiarkan kuda-kudanya beristirahat sebentar, tiba-tiba dua bersaudara, Winda dan Anuwinda, menyerangnya. Tetapi, seperti para kesatria sebelumnya, dengan mudah Arjuna menewaskan mereka.

Ketika Arjuna dan Krishna sedang duduk-duduk ber-istirahat dan kuda mereka sedang makan rumput, dari kejauhan Duryodhona datang mendekat sambil berteriak lantang, “Kata orang engkau gagah berani dan pandai ber-tempur. Aku belum pernah melihat kehebatanmu dengan mataku sendiri. Sekarang aku ingin menyaksikan kemahi­ranmu berperang. Hai Arjuna, bangkitlah!”

Arjuna dan Duryodhona bertempur dengan hebat. Krishna heran sebab setiap anak panah yang dilepaskan dari Gandiwanya mental, tak bisa melukai Duryodhona. Ia lalu berkata, “Aneh! Apakah Gandiwamu sudah kehilangan kesaktiannya? Tak satu pun anak panahmu bisa melukai Duryodhona. Seperti batang ilalang, anak panahmu berja-tuhan setelah menyentuh tubuhnya. Aku bingung.”

Arjuna tersenyum sambil berkata, “Ya, aku tahu. Dur­yodhana pasti mendapat pinjaman senjata dari Drona. Mahaguru pernah mengajarkan padaku, bagaimana cara-nya melumpuhkan kekebalan dan kesaktian senjata itu. Engkau akan melihat kejadian lucu nanti.”

Sambil berkata demikian, Arjuna terus melepaskan anak panahnya untuk melumpuhkan kuda, kereta, dan sais Duryodhona. Pikirnya, pasukan Kurawa akan mudah dilucuti. Kemudian Arjuna melepaskan sebatang anak panah kecil yang mengandung racun penyengat ke arah tubuh Duryodhona yang tidak tertutup jubah. Bagaikan disengat lebah besar beracun, Duryodhona lari sambil berteriak-teriak kesakitan. Anak panah kecil itu tepat mengenai tubuhnya.

Kemudian Krishna meniup trompet kerangnya. Bunyi-nya menggema sampai terdengar oleh pasukan yang mengawal Jayadrata. Mereka kaget sekali. Para senapati mereka, yaitu Karna, Salya, Bhurisrawa, Aswatthama, Wisbasena, Chala dan Jayadrata lalu menyiagakan pasu-kan mereka masing-masing.

Sementara itu, Dristadyumna, yang dengan mahir mengemudikan keretanya yang ditarik empat kuda berbulu putih seputih bulu merpati. Ia menyerang

Drona, menebas tali kekang kuda-kuda penarik keretanya dan menyu-sulnya dengan serangan dari tangga dan dari samping kereta. Alangkah perkasanya kedua kesatria itu. Sebentar mendekat, kemudian menjauh, lalu mendekat lagi. Masing-masing dengan kereta dan kuda yang tegap dan kokoh.

Pertarungan itu berlangsung lama. Drona tidak mudah ditaklukkan. Nyawa Dristadyumna nyaris melayang kalau tidak diselamatkan oleh Satyaki. Pada saat yang genting, kesatria itu datang mendekat sambil merentangkan busur-nya dan








membidik busur Drona. Kena! Dristadyumna dapat diselamatkan, sementara para kesatria yang terluka dilarikan ke tempat yang aman.

Bagaikan ular kobra raksasa, Mahaguru Drona menye-rang Satyaki yang menantangnya dengan berkata, “Engkau brahmana yang meninggalkan kewajibanmu sebagai pen-dita dan memilih berlaga di medan perang. Engkau mem-buat Pandawa terpaksa bertempur mati-matian. Engkau membuat Duryodhona semakin sombong. Engkau harus menerima buah perbuatanmu.”

Sungguh sengit pertarungan Satyaki dengan Drona. Pasukan kedua pihak sampai berhenti berperang. Para penonton kagum melihat pertarungan dua senapati sakti itu. Berkali-kali kereta mereka bertumbukan. Panji-panji mereka sudah jatuh. Meskipun masing-masing luka parah, mereka tetap bertempur dengan gagah berani. Setiap anak panah yang dilepaskan Drona selalu berhasil dipatahkan oleh Satyaki dengan menghantam busur Drona. Tidak kurang dari seratus busur Drona telah dipatahkan Satyaki.

Drona berkata dalam hati, “Kesatria ini pantas disejajarkan dengan Sri Rama, Kartawirya, Arjuna, atau Bhisma.” Ia menyerang Satyaki dengan senjata penyembur api. Serangan itu dibalas Satyaki dengan senjata penyem-bur air.

Akhirnya, betapa pun kuatnya Satyaki, ia lemas dan kehilangan banyak tenaga karena luka-lukanya. Mengeta-hui itu, Drona bersiap untuk menyerang, seperti seekor kucing hendak menerkam anak burung. Melihat itu, Yudhistira segera memerintahkan para perwira yang ada di dekatnya untuk menyelamatkan Satyaki. Untunglah mereka berhasil.

Baru saja Satyaki berhasil diselamatkan, Yudhistira mendengar bunyi trompet kerang Krishna melengking nyaring. Tetapi, ia tidak mendengar bunyi desing anak panah yang dilepaskan dari Gandiwa Arjuna. Yudhistira cemas, tidak mungkin terompet kerang Krishna dibu-nyikan tanpa dibarengi ledakan Gandiwa Arjuna. Pasti Arjuna terkena malapetaka, pikir Yudhistira. Pasti Arjuna dikepung musuh. Mungkin malah sudah dibunuh dan Krishna terpaksa mengangkat senjata dan melawan Kurawa.

Ia memanggil Satyaki dan berkata kepadanya, “Satyaki, engkau sahabat Arjuna yang terdekat. Tak ada yang tak dapat kaulakukan untuk menolong Arjuna. Aku yakin, Arjuna pasti sudah dikepung musuh. Jayadrata adalah kesatria sakti yang didukung berpuluh-puluh kesatria terbaik Kurawa. Waktu kami hidup dalam pengasingan, Arjuna pernah berkata bahwa tak ada prajurit yang sebaik Satyaki. Pergilah engkau segera, bantulah Arjuna!”

Dalam keadaan masih lemas, Satyaki menjawab, “Wahai Raja yang tak pernah berbuat dosa, aku akan lakukan perintahmu. Apa yang tidak kulakukan demi Arjuna? Nyawaku bagaikan setitik embun dalam samudera, tak ada artinya. Demikianlah pengabdianku kepada Pandawa. Tetapi ijinkan aku mengatakan bahwa Krishna dan Arjuna telah berpesan: sesaat pun aku tidak boleh meninggalkan-mu sebelum mereka kembali dari menghabisi Jayadrata. Kata mereka, ‘Waspadalah dalam menjaga Yudhistira. Kami percayakan keselamatannya padamu. Drona berniat menculiknya.’

“Demikian pesan mereka. Sekarang kauperintahkan aku menolong Arjuna. Sesungguhnya kesaktian Arjuna tidak perlu disangsikan. Kekuatan Jayadrata dan para kesatria yang mengelilinginya tidak lebih dari seperenam-belas kekuatan Arjuna. Kalau aku pergi, kepada siapa aku dapat mempercayakan keselamatanmu,








Dharmaputra? Tak seorang pun di sini yang dapat menahan serangan Drona kalau ia datang menculikmu. Pikirkanlah masak-masak!”

“Satyaki, aku telah pikirkan masak-masak. Pergilah engkau dengan ijinku. Jangan khawatir, di sini ada Bhima, Dristadyumna dan yang lain. Jangan khawatirkan diriku,” kata Yudhistira yang lalu menyuruh orang menyiapkan senjata dan kereta untuk Satyaki.

“Bhimasena, jagalah Dharmaputra. Hati-hatilah eng­kau,” kata Satyaki kepada Bhima sesaat sebelum ia melecut kudanya menuju ke tempat Arjuna bertempur melawan Jayadrata.

Mengetahui Satyaki pergi, Drona kembali menyerang Yudhistira dengan serangan yang lebih hebat dan pasukan lebih kuat.

Sudah lewat tengah hari, tetapi Arjuna belum juga kembali. Demikian pula Satyaki. Yudhistira cemas dan bingung, lebih-lebih karena pasukan Kurawa yang dipimpin Drona semakin dekat.

“Bhima, aku makin cemas. Matahari telah condong ke barat, tetapi tidak ada tanda-tanda mereka akan kembali,” kata Yudhistira kepada Bhimasena.

“Aku belum pernah melihat engkau bingung seperti sekarang,” jawab Bhima. “Katakan apa yang harus kulaku­kan. Jangan biarkan pikiranmu terbenam dalam rasa cemas.”

“Bhimasena, aku khawatir saudaramu telah tewas dibunuh musuh. Bunyi trompet Krishna tanpa dibarengi ledakan Gandiwa Arjuna membuatku bingung. Mungkin Krishna sudah mengangkat senjata, padahal ia telah bersumpah tidak akan mengangkat senjata. Pergilah engkau, bergabunglah dengan mereka dan Satyaki. Lakukan apa yang harus kaulakukan dan kembalilah segera. Jika bertemu mereka dalam keadaaan hidup, mengaumlah seperti singa — auman yang biasa engkau perdengarkan,” perintah Yudhistira kepada Bhimasena.

“Raja yang kuhormati, jangan engkau bingung. Aku akan pergi menuruti perintahmu,” jawab Bhima. Ia meno-leh kepada Dristadyumna dan berkata kepadanya, “Pan­chala, kau tahu secara terperinci niat Drona menangkap Dharmaputra hidup-hidup untuk diserahkan kepada Dur-yodhana. Tugas kita yang utama adalah menyelamatkan dia. Tetapi aku harus taat pada perintahnya. Aku per-cayakan dia kepadamu. Jagalah dia baik-baik!”

Dalam perjalanan menuju tempat Arjuna, Bhima harus bertempur melawan pasukan Kurawa yang dipimpin Drona. Bagaikan seekor singa menerjang gerombolan rusa, Bhima membunuh sebelas putra Maharaja Dritarastra hingga ia berada dekat sekali dengan Drona. Gurunya itu berkata bahwa Bhima tidak bisa lewat begitu saja tanpa lebih dulu mengalahkannya. Drona mengira Bhima akan berbuat seperti Arjuna ketika menerobos pasukan Kau-rawa untuk mencapai tempat Jayadrata, yaitu dengan penuh hormat menghindari gurunya.

Tetapi Bhimasena lain. Dengan tegas ia membalas tantangan Drona. Katanya, “Wahai Brahmana, bukan karena ijinmu Arjuna dapat menerobos pasukan Kurawa. Yang benar, itu terjadi karena engkau memang setengah hati melawan Arjuna. Arjuna selalu sangat menghormati-mu. Dengan aku urusannya lain! Dulu engkau memang guruku, sekaligus ayah bagi kami. Tetapi sekarang engkau musuhku. Dulu kami menghormatimu. Tetapi sekarang engkau sendiri telah memutuskan untuk








menjadi musuh kami. Baiklah, kau menentukan pilihan dengan sadar. Bagi kami, tidak ada pilihan lain.”

Sambil berkata demikian, Bhima melemparkan gada ke kereta Drona. Kereta itu hancur! Drona mengganti kereta-nya dengan yang baru. Tetapi begitu diganti, ia digempur lagi oleh Bhimasena. Delapan kereta Drona diremukkan. Selanjutnya Drona dibantu pasukan Negeri Bhoja, tetapi pasukan itu juga dilumpuhkan Bhimasena. Kesatria Pan-dawa itu maju sampai ke dekat tempat Arjuna bertarung melawan Jayadrata.

Segera setelah melihat Arjuna, Bhimasena mengaum bagai singa lapar. Suaranya berkumandang di udara. Krishna dan Arjuna mendengar Bhima mengaum, lalu membalas dengan isyarat penuh kegembiraan. Sayup-sayup Dharmaputra mendengar auman Bhima. Maka hilanglah segala kecemasan dan keraguannya. Serta merta ia memanjatkan doa dan mengucapkan mantra demi keselamatan Arjuna.

***

Pertempuran berkobar di mana-mana. Duryodhona menge-

luh lagi kepada Drona. Katanya, “Arjuna, Satyaki dan Bhimasena menghadapi kita dengan cerdik dan kita hampir mati konyol. Dengan mudah mereka bisa menerobos sampai ke tempat Raja Sindhu.

“Aneh, di bawah pimpinanmu pasukan kita selalu kocar-kacir. Setiap orang bertanya kepadaku. Bagaimana Drona bisa seperti itu, padahal dia kesatria besar, ahli berbagai strategi perang dan menguasai segala macam senjata? Mengapa dia selalu ditaklukkan Pandawa dengan mudah? Jawaban apa yang dapat kuberikan kepada mereka? Apakah engkau berniat mengkhianatiku?”

“Duryodhona, tuduhanmu tidak beralasan karena tidak didasarkan kebenaran. Tidak ada gunanya bicara yang tidak perlu. Situasi saat ini sedang sangat gawat. Jangan buang-buang waktu. Tiga senapati musuh sudah maju mengepung kita. Tetapi, kita tidak usah cemas atau bingung, karena kekuatan belakang mereka dipimpin Yudhistira yang pasti dapat kita kalahkan dengan mudah. Kini kita berada di kedua sisi mereka dan itu membuat posisi mereka tidak aman. Pergilah dan bantulah Jaya-drata sekali lagi. Aku akan menghadapi pasukan Pandawa yang dipimpin Yudhistira,” kata Drona menyemangati Duryodhona, meskipun sebenarnya ia tersinggung karena hinaan putra mahkota Kurawa itu.

***

Ketika Bhima sampai di dekat Arjuna, Karna berteriak mengejek dan menantangnya, “Ooo... ini orangnya! Kesa­tria rakus berperut gendut yang tidak tahu apa-apa ten-tang ilmu perang. Kalau kau memang berani, jangan berbalik punggung dan kabur meninggalkan medan perang seperti pengecut!”

Bhimasena tidak tahan mendengar hinaan itu. Segera ia mendekati Karna, siap menghantamnya. Sambil tersenyum Karna mengelak, menjauhkan diri. Sebaliknya, dengan wajah merah padam Bhimasena terus maju menggempur Karna. Maka, terjadilah pertempuran hebat antara kedua jagoan itu. Karna selalu menghindari perkelahian jarak dekat dengan terus menerus melepaskan anak panah ke arah Bhima. Tak terhitung banyaknya anak panah yang menancap di tubuh kesatria Pandawa itu. Tetapi raga Bhima sangat kokoh bagai baja, sedikit pun ia tidak merasa sakit. Dia terus maju. Darah menetes dari lukanya, bagaikan bunga-bunga








asoka merah berguguran. Dengan tangkas berkali-kali dia menghantamkan gadanya pada kereta Karna sampai kereta itu hancur berantakan. Setelah itu ia menjauh, sementara Karna mengganti keretanya. Beberapa kali demikianlah yang terjadi. Karna mengganti keretanya dan Bhimasena menghancurkannya. Semangat Bhima berkobar-kobar karena ia ingat penghinaan Kau-rawa terhadap Draupadi dan saudara-saudaranya.

Untuk kesekian kalinya, mereka memacu kereta masing-masing, saling mendekat. Kereta Karna ditarik empat kuda berbulu putih susu, kereta Bhima ditarik empat kuda berbulu hitam arang. Pertarungan kedua kesatria itu berlangsung sangat seru.

Setiap kali Karna mengangkat busur baru, Bhimasena mematahkannya dengan gadanya, sampai akhirnya Karna kehabisan busur. Ketika Karna sedang kebingungan keha-bisan busur, Bhimasena menghantam kereta Karna sam-pai kereta itu hancur. Terpaksa Karna melompat turun. Pada saat itulah Duryodhona memanggil Durjaya, saudara­nya, dan memerintahkan, “Kesatria Pandawa laknat itu akan membunuh Karna. Cepatlah ke sana! Serang dia! Halangi dia! Hantam dia! Selamatkan Karna!”

Serangan Durjaya disambut Bhimasena dengan tang-kas, lebih-lebih karena ia telah bersumpah hendak mem-bunuh semua anak Dritarastra. Dalam waktu singkat Bhimasena dapat mematahkan pukulan Durjaya. Dia melemparkan beberapa gada serentak. Satu per satu kuda, kereta dan Durjaya sendiri roboh bagaikan pohon tum-bang. Sementara itu, Karna sempat mengganti keretanya dengan yang baru.

Pertarungan berulang antara Karna dan Bhimasena. Kali ini makin seru! Panah-memanah, lembing-melembing, tombak-menombak tidak henti-hentinya. Tetapi gada Bhima lagi-lagi tepat mengenai kereta Karna yang baru, sais dan keretanya remuk, terserak di tanah.

Karna kini berdiri di tanah sambil merentang busurnya. Duryodhona mengirimkan saudaranya yang lain, yaitu Durmuka. Sama seperti Durjaya, Durmuka pun tewas di tangan Bhimasena. Setelah menewaskan Durjaya dan Durmuka, Bhima terus menyerang Karna. Anak panahnya tepat mengenai jubah Karna sehingga kesatria itu hampir telanjang dibuatnya.

Lima saudara Duryodhona datang lagi, yaitu Durmursa, Dussaha, Durmata, Durdara dan Jaya. Mereka membantu Karna menyerang Bhimasena yang dengan tangkas meng-hadapi lima kesatria muda itu. Dengan penuh semangat, bagaikan pemburu berpengalaman yang girang melihat lima ekor kijang muda di depannya, Bhimasena meng-hantamkan gada-gadanya ke tubuh lima kesatria itu. Seketika itu juga kelimanya jatuh bergelimpangan di tanah... tewas.

Karna merasa malu melihat korban berjatuhan di hadapannya karena membela dirinya. Ia menyesal karena tidak segera menyerang Bhimasena habis-habisan. Seba-liknya, karena ingat akan penghinaan Karna di masa lalu, Bhimasena semakin garang dan ingin segera membunuh-nya. Dengan kereta yang baru lagi, Karna menyerang Bhimasena. Meskipun sudah berusaha keras, posisi Karna selalu terpojok. Hal itu membuat Duryodhona mengirim-kan bantuan lagi. Tujuh saudaranya, Citra, Upacitra, Citraksa, Carucitra, Sarasena, Citrayuda dan Citrawarman, diperintahkan menggempur Bhimasena. Mereka bertempur dengan gagah berani. Tetapi Bhimasena meremukkan mereka bersama kereta masing- masing.








Kegarangan Bhimasena membuat Duryodhona sangat marah sekaligus khawatir akan nasib Karna di tangan Bhimasena. Untuk kesekian kalinya, Duryodhona mengi-rimkan tujuh saudaranya untuk menggempur Bhimasena. Tetapi, kesatria Pandawa itu tidak dapat ditundukkan lagi. Ketujuh saudara Duryodhona yang baru dikirim diamuk-nya hingga tewas.

Ketika pertarungan sedang berlangsung seru, datanglah Wikarna. Melihat kesatria itu terlibat dalam pertempuran, Bhimasena menghantamnya dengan gada hingga tewas seketika. Melihat itu, Bhimasena merasa sedih dan menye-sal. Katanya kepada Wikarna sebelum kesatria itu meng-hembuskan napasnya yang terakhir, “Wahai Wikarna, engkau orang yang adil dan mengerti arti dharma. Engkau bertempur karena panggilan kewajiban, dan aku terpaksa membunuhmu karena panggilan kewajiban juga. Perang ini sangat terkutuk, lebih-lebih karena orang sebaik eng­kau dan Bhisma menjadi korban.”

Karna tak bisa lagi tersenyum-senyum. Wajahnya me-rah padam, menahan malu dan amarah. Ia malu karena tak bisa mengalahkan Bhimasena dan marah karena meli-hat korban berjatuhan di depannya padahal mereka diutus untuk membelanya.

Pasukan kedua pihak tertegun menyaksikan perta-rungan Karna dan Bhimasena. Sama kuatnya, sama tang-kasnya, sama saktinya. Suatu saat Bhimasena tersudut. Keretanya hancur, kuda-kudanya mati. Ia terpaksa melom-pat turun lalu berlari mendekati Karna. Dengan tangkas ia melompat naik ke kereta musuhnya. Bhima mengayunkan gadanya, tetapi Karna mengelak dan berlindung di bela-kang tiang panji-panjinya. Ia bahkan sempat menghantam punggung Bhimasena hingga kesatria Pandawa itu ter-jungkal ke tanah.

Kini Bhimasena tak punya senjata lagi. Gadanya yang terakhir remuk dihantam Karna. Tetapi ia tidak mau me-nyerah begitu saja. Apa saja yang dapat diambilnya dijadi-kannya senjata: roda kereta, tombak patah, mayat musuh, bangkai gajah. Dengan cekatan ia menggunakan senjata-senjata itu untuk menyerang Karna. Karna membalas. Sekarang keselamatan Bhima terancam, tanpa kereta tanpa senjata. Sesaat kesatria Pandawa itu tertegun, mati langkah. Kesempatan itu digunakan Karna untuk menghi-na dan mencaci maki Bhimasena yang sudah tak berdaya.

Krishna berkata kepada Arjuna, “Lihat Dhananjaya, Bhimasena tidak berdaya dan dihina oleh Karna.”

Melihat saudaranya dihina, Arjuna tak dapat menahan diri lagi. Ia merentangkan Gandiwanya, memasang seba-tang anak panah sakti, membidikkannya, lalu melepas-kannya. Semua itu dilakukannya dalam sekejap mata. Terdengar bunyi ledakan ketika anak panah itu lepas dari busurnya, meluncur cepat lalu menancap tepat pada sasaran. Kereta Karna bergoyang hebat. Penunggangnya jatuh. Karna memandang ke segala arah, mencari orang yang mencederainya. Ketika tahu serangan itu dilancarkan Arjuna, hatinya senang karena ia ingat akan sumpahnya di depan Dewi Kunti.

***

Sementara itu, kedatangan Satyaki justru membuat Arjuna khawatir karena kesatria itu sebenarnya ditugaskan men-jaga Yudhistira, lebih-lebih karena Bhurisrawa ada di seki-tar situ. Arjuna tahu, keluarga Satyaki dan keluarga Bhu-risrawa sudah bermusuhan sejak jaman nenek moyang mereka.








Dahulu, ada seorang gadis cantik bernama Dewaki. Kecantikan dan kehalusan budinya terkenal di mana-mana hingga banyak putra mahkota kerajaan ingin menyun-tingnya. Timbullah persaingan keras di antara mereka. Waktu itu putra mahkota Dwaraka yang masih perjaka mengutus Sini untuk bertarung atas namanya, melawan Somadatta, untuk memperebutkan Dewaki. Sini meme-nangkan pertempuran itu, melarikan Dewaki dan menye-rahkan putri itu kepada putra mahkota Dwaraka. Tak lama kemudian putra mahkota itu diangkat menjadi Raja Dwa-raka dan menikahi Dewaki. Pasangan itu dikaruniai tiga anak, Balaputra atau Baladewa, Krishna, dan Subadra.

Sejak itu permusuhan antara Sini dan Somadatta tak dapat didamaikan, bahkan sampai turun-temurun. Satyaki adalah cucu Sini, dan Bhurisrawa adalah anak Somadatta.

Waktu Bhurisrawa melihat Satyaki, seketika itu juga rasa permusuhan berkobar di dadanya. Bhurisrawa yang sudah lanjut usia itu menantang Satyaki dengan berkata, “Sombong benar engkau, menganggap diri kesatria besar tak terkalahkan. Tunjukkan kekuatanmu. Temui ajalmu di tanganku. Sudah lama aku menunggu pertemuan ini. Akan kukirim kau secepatnya ke hadapan Batara Yama.”

Satyaki menjawab sambil tersenyum, “Tutup mulutmu! Tak ada gunanya omong besar. Kata-kata bukan ukuran perbuatan. Jangan coba menakut-nakuti orang yang sudah siap bertempur. Tunjukkan kegagahanmu dan jangan berkhayal.”

Setelah saling melontarkan kata-kata ejekan, mereka terlibat pertarungan yang sangat dahsyat.

Kereta mereka saling bertumbukan, kuda-kuda terbu-nuh, kereta hancur, busur patah-patah. Mereka berdiri di tanah, sama-sama memegang perisai dan menghunus pedang. Terjadilah pertarungan sengit. Mereka saling menebaskan pedang dan saling menangkis. Setelah pedang dan perisai hancur, mereka bergulat, banting-membanting. Sebentar Bhurisrawa berada di bawah, sebentar kemudian Satyaki yang tertindih.

Saat itu Arjuna masih sibuk menghadapi pasukan Jaya-drata. Krishna yartg melihat Satyaki mulai lemas, berkata kepada Arjuna, “Dhananjaya, Satyaki tampak kehabisan napas. Bhurisrawa mungkin akan berhasil membunuhnya. Satyaki datang untuk membantumu, tapi ia terpaksa bertarung dengan Bhurisrawa karena ditantang olehnya. Pertarungan mereka tidak seimbang, karena Satyaki tidak bersenjata lengkap. Kalau engkau tidak membantu Satyaki, ia pasti mati dibunuh Bhurisrawa.”

Arjuna tidak menghiraukan kata-kata Krishna. Ia terus bertarung melawan Jayadrata. Krishna terus mengawasi pertarungan Satyaki dengan Bhurisrawa. Dilihatnya putra Somadatta mengangkat Satyaki yang sudah lemas dan membantingnya keras-keras ke tanah. Cucu Sini itu langsung terkapar tak sadarkan diri. Bhurisrawa lalu menyeretnya, bagai singa menyeret mangsanya ke sarangnya.

“Satyaki sudah tak berdaya ketika diseret Bhurisrawa. Ia putra terbaik bangsa Wrisni yang masuk ke medan Kurukshetra untuk membantumu melawan Kurawa. Di depan matamu dia akan dibunuh tetapi engkau tidak berbuat apa-apa,” kata Krishna lagi.

Arjuna bimbang, pikirannya bercabang. Katanya, “Bhu­risrawa datang ke medan perang ini bukan karena tan-tanganku dan sebaliknya ia juga tidak menantang aku. Bagaimana aku bisa memanah dia sementara aku masih sibuk








bertempur dengan musuhku? Aku bimbang. Pikiran-ku tidak mengijinkan aku berbuat demikian, padahal teman sejatiku yang datang untuk membantuku hendak dibunuh di depan mataku.”

Lama Arjuna ragu-ragu, tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Ribuan anak panah berlesatan di angkasa, dilepaskan dari busur Jayadrata. Arjuna terpaksa melayani serangan itu. Krishna terus mendesak Arjuna agar meno-long Satyaki yang tak sadarkan diri sementara Bhurisrawa siap mengayunkan pedangnya untuk menebas lehernya. Ketika Arjuna menoleh ke belakang, dilihatnya Bhurisrawa berdiri di atas tubuh Satyaki sambil mengangkat pedang-nya tinggi-tinggi. Sesaat kemudian kesatria itu mengayun-kan pedangnya ke arah leher Satyaki.

Secepat kilat Arjuna melepaskan anak panahnya. Anak panah itu melesat cepat, menyambar dan memotong tangan Bhurisrawa. Kesatria itu jatuh terpelanting ke tanah sambil memegangi pedangnya. Bhurisrawa menoleh ke arah Arjuna.

“Ah, anak Dewi Kunti,” katanya. “Aku tidak mengira serangan ini datangnya dari engkau. Menyerang dari belakang tidak sesuai dengan watak kesatria. Aku datang untuk bertarung melawan seseorang. Muka dengan muka.

Berhadapan. Tapi engkau menyerangku dengan licik dari belakang. Benarlah kata sang bijak: sesungguhnya tak seorang pun dapat menahan pengaruh iblis dalam dirinya, tidak juga engkau yang sebenarnya patut dihormati.

“Dhananjaya, jika nanti kaukembali ke tempat saudara­mu, Yudhistira, bagaimana engkau akan menceritakan perbuatanmu ini? Hai Arjuna, siapa yang mengajarkan kelicikan itu kepadamu? Apakah Batara Indra, Mahaguru Drona atau Kripa? Tata krama apa yang mengijinkanmu menyerang seseorang dari belakang? Engkau bertindak seperti keturunan orang hina. Perbuatan nistamu telah mengotori kehormatanmu. Perbuatanmu ini pasti dipenga-ruhi oleh Krishna.

“Aku tahu, ini bukan sifatmu. Ini pasti karena kau terpengaruh oleh Krishna. Ingatlah, tak seorang kesatria pun akan merendahkan diri dengan melakukan tindakan tercela itu.” Demikian Bhurisrawa mengutuk Arjuna dan Krishna.

Partha menjawab, “Wahai Bhurisrawa, engkau telah uzur, usia tua membuat penilaianmu berkarat. Ketahuilah, tidak mungkin aku diam saja, jika di hadapanku kawan yang hendak menolongku terancam jiwanya. Kawanku hendak kau sembelih, padahal ia dalam keadaan tak sadarkan diri. Lebih baik aku masuk neraka jika tidak bisa menghalangi perbuatanmu.

“Engkau katakan pikiranku telah dirusak Krishna. Tetapi tuduhanmu itu kauucapkan dengan pikiran kacau. Satyaki datang kemari tanpa membawa senjata dan dalam keadaan lelah. Ia berniat membantuku, tetapi kau malah menantangnya.

“Setelah ia kautundukkan sampai tak sadarkan diri, dengan keji kau berniat menebas lehernya. Watak kesatria seperti apa yang mengijinkan kamu menginjak- injak tubuh orang yang tak sadarkan diri? Tidakkah kau ingat bagai-mana prajurit Kurawa bersorak-sorak dan menari-nari seperti iblis mengeroyok anakku, Abhimanyu, yang sudah tidak berdaya dan tanpa senjata?

“Wahai kesatria besar, ketahuilah, aku telah bersumpah untuk melindungi semua temanku dalam jarak sebidikan anak panahku. Takkan kubiarkan ia terbunuh di tangan musuh. Itulah sumpah suciku. Sekarang renungkan per-buatanmu terhadap Satyaki. Bagaimana mungkin engkau menyalahkan perbuatanku? Kau melancarkan kutukan tanpa pengertian yang benar dan tepat.”








Mendengar kata-kata Arjuna, Bhurisrawa terdiam. Kemudian ia bangkit dan meletakkan anak panahnya dekat kakinya. Lalu ia duduk di atas anak panah itu, seolah-olah duduk di tikar dengan kaki bersila. Kesatria tua itu bersamadi dan melakukan yoga. Melihat tindakan Bhurisrawa, pasukan Kurawa bersorak memujinya dan mengejek Arjuna dengan kata-kata pedas.

Arjuna berkata lagi kepada Bhurisrawa, dengan cukup keras agar bisa didengar oleh mereka yang ada di sekitar situ, “Engkau kesatria hebat. Engkau membela siapa pun yang datang meminta bantuanmu. Engkau seharusnya sadar, apa yang terjadi sekarang ini adalah akibat kesala-hanmu. Tidak adil dan tidak benar jika kau menyalahkan aku. Kalau kau mau jujur, seharusnya kau berani me-nyalahkan dan mengutuk kekerasan dan nafsu perang yang menguasai kehidupan seluruh bangsa kesatria.”

Bhurisrawa menatap wajah Arjuna, lalu memberi hor-mat kepadanya dengan menundukkan kepala. Pada saat itulah Satyaki siuman. Ia segera bangkit. Melihat Bhuris-rawa ada di dekatnya, kebencian dan amarahnya seketika memuncak. Tanpa menunggu-nunggu, dia mengambil pedang dari dekat situ lalu secepat kilat menebaskannya ke leher Bhurisrawa yang sedang duduk bersila dan bersamadi. Sebelum Arjuna dan Krishna sempat meram-pas pedang Satyaki, kepala Bhurisrawa telah lebih dulu terguling ke tanah. Ajaib! Badannya tetap dalam posisi beryoga.

Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Semua yang menyak-sikan menahan napas dan mengutuk perbuatan Satyaki yang kemudian berdiri tegak dan berseru lantang, “Setelah aku jatuh tak sadarkan diri, musuh keluargaku ini menginjak-injak aku dan hendak memancung leherku. Untuk membalas perbuatannya, aku berhak membunuh dia dalam keadaan apa pun. Aku bukan orang yang pantas dikutuk.

Apa pun anggapan Kurawa maupun Pandawa menge-nai kematian Abhimanyu dan Bhurisrawa dalam pertem-puran di Kurukshetra yang dahsyat, namun pertentangan batin dan konflik moral sebagai akibat peperangan itu akan menjadi ukuran bagi nilai-nilai pandangan hidup manusia di dunia ini untuk di masa datang. Dari masa ke masa peristiwanya mungkin sama, tetapi tanggapannya bisa berbeda.

***

Di tengah pasukan Kurawa, Duryodhona berkata kepada Karna. “Karna, hari telah sore. Jika malam tiba dan Jayadrata belum juga terbunuh, Arjuna akan malu besar. Dia pasti akan bunuh diri karena tak dapat memenuhi sumpahnya. Kematian Arjuna berarti kehancuran Pandawa dan seluruh kerajaan akan kita kuasai. Siapa pun takkan mengungkit kekuasaan kita. Sumpah Arjuna tak mungkin terlaksana karena diucapkan tanpa pertimbangan masak-masak. Arjuna pasti hancur di tangannya sendiri.

“Rupanya hari ini bintangku terang-benderang. Kesem-patan ini harus kita gunakan sebaik-baiknya. Segala sesu-atu tergantung padamu. Buktikan kesanggupanmu hari ini. Lihat, matahari hampir terbenam dan hari hampir ma-lam. Aku yakin, Arjuna takkan bisa mencapai Jayadrata. Engkau, Aswatthama, Salya, Kripa dan aku harus menjaga Jayadrata sekuat tenaga agar ia tidak jatuh ke tangan Arjuna. Kita harus terus menjaganya sampai beberapa saat sesudah matahari tenggelam.”

“Tuanku Raja, hari ini aku sangat lelah. Badanku penuh luka setelah bertempur melawan Bhimasena. Tetapi kalau kaukehendaki, nyawaku akan kuserahkan kepada­mu,” jawab Karna.








Sementara itu, Arjuna terus menerjang pasukan Kau-rawa yang diperintahkan untuk menghalanginya agar kesatria Pandawa itu tidak bisa mendekati Jayadrata. Pada saat itu Krishna mengirimkan isyarat, memanggil kereta dan sais bernama Daruka untuk diberikan kepada Satyaki. Daruka adalah sais yang sangat mahir. Bersama Satyaki ia ditugaskan untuk bertempur melawan Karna di medan yang terpisah. Setelah bertempur beberapa lama, Karna berhasil dilumpuhkan, keretanya dihancurkan, dan ia terpaksa melompat naik ke kereta Duryodhona.

Ketika Satyaki mengamuk lagi melawan para kesatria Kurawa, Arjuna makin maju mendekati Jayadrata. Piki-rannya penuh dengan kenangan akan kematian Abhima-nyu. Tanpa kenal lelah dan tak peduli pada luka-luka di tubuhnya, Arjuna terus berperang. Dengan Gandiwanya, ia membuat pasukan Kurawa kacau balau. Arjuna terus maju mendekati Jayadrata. Pertarungannya dengan Aswat-thama dan lainnya tidak membuatnya semakin jauh dari tujuannya. Sebaliknya, setelah mengalahkan musuh-mu-suhnya, ia semakin dekat dengan Jayadrata.

***

Mereka yang bertempur sebentar-sebentar menoleh ke barat. Pertempuran belum juga berakhir. Waktu hanya tinggal sedikit. Tiba-tiba medan Kurukshetra menjadi gelap dan terdengar teriakan Duryodhona, “Lihatlah, hari sudah malam! Arjuna tidak dapat melaksanakan sumpahnya. Sungguh memalukan!”

Sementara itu Jayadrata menengadah, memandang ke barat dengan ragu, sebab beberapa saat yang lalu langit masih terang. Katanya dalam hati, “Aku selamat, aku selamat....”

Pada saat itulah Krishna berkata kepada Arjuna, “Dha­nanjaya, lihatlah Raja Sindhu sedang memandang langit. Aku mengucapkan mantra agar medan ini menjadi gelap.

Sebetulnya matahari masih di atas. Cepat, lakukan tugas-mu! Jayadrata sedang sendirian!”

Maka melesatlah sebatang anak panah bermata pedang dari Gandiwa Arjuna, tepat menembus leher Jayadrata. Leher itu putus. Kepala Jayadrata terbawa terbang oleh anak panah yang terus meluncur, bagaikan burung elang menyambar anak ayam. Sebatang anak panah dilepaskan lagi oleh Arjuna, untuk menerbangkan kepala itu ke tem-pat yang lebih jauh. Dengan kekuatan yang telah diper-hitungkan, anak panah itu menerbangkan kepala Jaya-drata sampai

ke tempat pertapaan ayahnya. Akhirnya, anak panah itu jatuh tepat di pangkuan Raja Wridaksatra yang sedang khusyuk bersamadi.

Ketika raja tua itu selesai bersamadi, ia bangkit berdiri. Maka tergulinglah kepala anaknya dari pangkuannya. Akibat kutuk-pastu yang dilontarkannya dulu, maka kepala mantan raja itu sendiri yang meledak, pecah berkeping-keping. Seketika itu juga ia menemui ajalnya.








Krishna, Dhananjaya, Bhimasena, Satyaki, Yudha-manyu dan Uttamaujas meniup trompet kerang mereka sebagai tanda bahwa Arjuna berhasil melaksanakan sumpahnya. Medan Kurukshetra sesaat menjadi terang kembali karena memang demikianlah keadaannya yang sesungguhnya. Beberapa waktu kemudian, matahari tenggelam sebagaimana biasa.



0 comments:

Recents