33. Pertemuan Para Penasihat Agung Pandawa tidak lagi hidup dalam pengasingan dan per-sembunyian. Tiga belas tahun telah mereka lewatkan den...

33. Pertemuan Para Penasihat Agung





33. Pertemuan Para Penasihat Agung

Pandawa tidak lagi hidup dalam pengasingan dan per-sembunyian. Tiga belas tahun telah mereka lewatkan dengan penuh penderitaan. Tiga belas tahun yang memberi mereka banyak pengalaman berharga. Mereka meninggal-kan ibukota Negeri Matsya dan tinggal di suatu tempat bernama Upaplawya, yang terletak di wilayah Negeri Mat-sya. Dari sana mereka mengirim utusan untuk menemui sanak dan kerabat mereka.

Dari Dwaraka datang Balarama, Krishna, Subhadra, istri Arjuna, dan Abhimanyu, putra mereka. Para bangsa-wan itu diiringkan para kesatria keturunan bangsa Yada-wa. Mereka diterima oleh Raja Wirata dan Pandawa dengan penuh kehormatan, lebih-lebih karena hadirnya Janardana alias Krishna, sang penasihat Pandawa. Indrasena, yang mengikuti Pandawa di tahun pertama pengasingan mereka, juga datang. Raja Kasi dan Raja Saibya datang diiringkan panglima masing-masing. Begitu pula Drupada, Raja Pan-chala, ayah Draupadi. Tak kalah menariknya adalah hadir-nya tiga pasukan perang yang dipimpin Srikandi, anak-anak Draupadi, dan Dristadyumna. Banyak raja dan putra mahkota datang ke Upaplawya untuk menyatakan persa-habatan dan simpati kepada Pandawa.

Dalam pertemuan mahabesar itu, perkawinan Abhima-nyu dengan Dewi Uttari dilangsungkan dengan khidmat dan meriah. Upacara perkawinan dilangsungkan di bala-irung istana Raja Wirata. Krishna duduk di samping Yudhistira dan Wirata, sementara Balarama dan Satyaki duduk dekat Drupada. Di samping upacara perkawinan Dewi Uttari dengan Abhimanyu, pertemuan agung itu juga merupakan pertemuan para Penasihat Agung untuk me-rundingkan penyelesaian yang bisa mendamaikan Panda-wa dan Kurawa.

Setelah upacara perkawinan selesai, para Penasihat Agung bersidang di bawah pimpinan Krishna. Semua mata memandang dengan penuh khidmat ketika Krishna bangkit berdiri untuk memberikan kata sambutan. “Sau­dara-saudara semua pasti tahu,” kata Krishna dengan suara lantang dan berwibawa. “Yudhistira telah ditipu da-lam permainan dadu. Yudhistira kalah dan kerajaannya dirampas. Dia, saudara-saudaranya, dan Draupadi harus menjalani pembuangan di hutan belantara. Selama tiga belas tahun putra-putra Pandu dengan sabar memikul segala penderitaan demi memenuhi sumpah mereka. Re-nungkanlah masalah ini dan









berikanlah pertimbangan sesuai dengan tugas kewajiban dharma, demi kejayaan dan kesejahteraan Pandawa maupun Kurawa. Dharmaputra tidak menginginkan sesuatu yang tidak patut dituntut. Ia tidak menginginkan apa pun, kecuali kebaikan dan keda-maian. Dia tidak mendendam meskipun putra-putra Drita-rastra telah menipunya dan membuatnya sengsara.

“Para Penasihat Agung yang terhormat, dalam memberi pertimbangan, jangan lupa mengingat penipuan yang dila-kukan Kurawa dan kehormatan serta keluhuran budi Pandawa. Carilah penyelesaian yang adil dan terhormat. Kita belum mengetahui apa keputusan Duryodhona. Me-nurutku, kita harus mengirimkan utusan yang tegas dan jujur serta mampu mendorong Duryodhona untuk ber-kemauan baik demi selesainya masalah ini secara damai. Kita berharap Duryodhona mengembalikan separo kera­jaan kepada Yudhistira.”

Setelah Krishna berbicara, Balarama tampil ke depan menyampaikan pendapatnya, “Saudara-saudara, baru saja kita dengar kata-kata Krishna. Penyelesaian yang ia kemu-kakan adil dan bijaksana. Aku setuju dengan pendapatnya, karena itu baik bagi kedua pihak, bagi Duryodhona mau-pun Dharmaputra. Jika putra-putra Kunti bisa memper-oleh kembali kerajaan mereka secara damai, tak ada yang lebih baik bagi mereka dan bagi Kurawa. Hanya dengan jalan demikian akan tercipta kebahagiaan dan perdamaian di muka bumi ini. Seseorang harus pergi ke Hastinapura untuk menyampaikan maksud Yudhistira dan membawa jawaban Duryodhona. Utusan itu harus berwibawa dan punya kesanggupan untuk mengusahakan perdamaian dan saling pengertian.

“Utusan itu harus bisa bekerja sama dengan Bhisma, Dritarastra, Drona, Widura, Kripa, dan Aswatthama. Jika mungkin, juga dengan Karna dan Syakuni. Ia harus men-dapat dukungan dari putra-putra Kunti. Ia tidak boleh gampang marah.

“Dharmaputra, yang mengetahui risiko bertaruh dalam permainan dadu telah mempertaruhkan kerajaannya. Ia tidak mau menghiraukan nasihat teman-temannya. Meski-pun tahu takkan mungkin mengalahkan Syakuni yang ahli bermain dadu, Yudhistira terus saja bermain. Karena itu, sekarang ia tidak boleh menuntut. Ia hanya boleh meminta kembali apa yang menjadi haknya. Utusan yang pantas hendaknya jangan orang yang haus perang. Ia harus sanggup berdiri tegak, betapa pun sulitnya, untuk men-capai penyelesaian secara damai.

“Saudara-saudara, aku ingin kalian mengadakan pende-katan dan berdamai dengan Duryodhona. Dengan segenap kemampuan kita, kita hindari pertentangan dan adu sen-jata. Semua kita usahakan demi perdamaian yang sangat berharga. Peperangan hanya menghasilkan kesengsaraan dan penderitaan bagi rakyat.”

Satyaki, kesatria Yadawa, tersinggung setelah mende-ngar pendapat Balarama. Ia tak dapat menahan diri. De-ngan marah ia bangkit berdiri dan minta diberi kesempa­tan bicara. Katanya lantang, “Menurut pendapatku Bala­rama sama sekali tidak bicara sedikit pun tentang kea-dilan. Dengan kecerdikannya, seseorang bisa memenang-kan suatu perkara. Tetapi kecerdikan tidak selalu bisa mengubah kejahatan menjadi kebajikan atau ketidakadilan menjadi keadilan. Aku menentang pendapat Balarama. Aku muak mendengar kata-katanya.

“Apakah kita tidak tahan melihat sebatang pohon yang sebagian dahan- dahannya sarat buah sementara dahan-dahan lainnya kering gersang tak berguna? Krishna bicara dengan semangat melaksanakan dharma, tetapi Balarama menunjukkan sikap tak bernilai. Kalau aku diijinkan bicara, aku katakan dengan








yakin bahwa Kurawa me-mang telah menipu Yudhistira dalam pembagian wilayah kerajaan. Tetapi, mengapa kita biarkan ketidakadilan itu seperti kita biarkan perampok memiliki barang-barang rampokannya? Siapa pun yang mengatakan bahwa Dhar-maputra bersalah, pasti mengatakannya karena takut kepada Duryodhona, bukan karena alasan lain!

“Saudara-saudara sekalian, maafkan kata-kataku yang kasar dan tak enak didengar. Ketahuilah, aku hanya mene-gaskan bahwa Kurawa memang sengaja berbuat demikian dan telah merencanakan semuanya. Mereka tahu, Dhar-maputra tidak ahli bermain dadu. Karena didesak-desak dan dibujuk-bujuk, akhirnya Dharmaputra tak bisa meno-lak untuk menghadapi Syakuni, si penjudi licik. Akibatnya, ia menyeret saudara-saudaranya ke dalam kehancuran. Kenapa sekarang ia harus menundukkan kepala dan meminta-minta di hadapan Duryodhona? Yudhistira bukan pengemis. Dia tidak perlu meminta-minta! Ia telah meme-nuhi janjinya. Dua belas tahun dalam pengasingan di hutan dan dua belas bulan dalam persembunyian. Tetapi, Duryodhona dan sekutunya tanpa malu dan dengan hina tidak mau menerima kenyataan bahwa Pandawa berhasil menjalankan sumpah mereka.

“Akan kutundukkan manusia-manusia angkuh itu dalam pertempuran. Mereka harus memilih: minta maaf kepada Yudhistira atau menemui kemusnahan. Jika tidak bisa dihindari, perang berdasarkan kebenaran tidaklah salah, begitu pula membunuh musuh yang jahat. Memin-ta-minta kepada musuh berarti mempermalukan diri sendiri. Jika Duryodhona menginginkan perang, ia akan memperolehnya. Kita akan sungguh-sungguh mempersiap-kan diri. Jangan kita menunda-nunda. Ayo, segera bersiap! Duryodhona tidak akan membiarkan pembagian wilayah tanpa peperangan. Bodoh kita kalau membuang-buang waktu.” Satyaki akhirnya berhenti bicara karena napasnya tersengal-sengal akibat terlalu bersemangat.

Drupada senang mendengar kata-kata Satyaki yang tegas. Ia berdiri lalu berkata, “Satyaki benar! Aku mendu­kungnya! Kata-kata lembut tidak akan membuat Duryo-dhana menyerah pada penyelesaian yang wajar. Mari kita teruskan persiapan. Kita susun kekuatan untuk mengha-dapi perang. Jangan buang-buang waktu! Segera kita kum-pulkan sahabat-sahabat kita. Kirimkan segera berita kepa-da Salya, Dristaketu, Jayatsena dan Kekaya.

“Kita juga harus mengirim utusan yang tepat dan cakap kepada Dritarastra. Kita utus Brahmana, pendita istana Negeri Panchala yang tepercaya, pergi ke Hastinapura un-tuk menyampaikan maksud kita kepada Duryodhona. Dia juga harus menyampaikan pesan kita kepada Bhisma, Dri­tarastra, Kripa, dan Drona.”

Setelah kesempatan untuk mengemukakan pendapat selesai, Krishna alias Wasudewa menyimpulkan, “Saudara­saudara, apa yang dikatakan Drupada sungguh tepat dan sesuai dengan aturan. Baladewa dan aku punya ikatan ka-sih, persahabatan, dan kekeluargaan yang sama terhadap Kurawa maupun Pandawa.

“Kami datang untuk menghadiri perkawinan Dewi Uttari dan sidang agung ini. Sekarang kami mohon diri untuk kembali ke negeri kami. Saudara-saudara adalah raja-raja besar dan terhormat. Dalam usia dan kebajikan kita sama. Dan memang patut jika kita saling memberi nasihat. Drita-rastra juga menghormati saudara- saudara sekalian, de-ngan sepantasnya dan sesuai tradisi. Drona dan Kripa ada-lah sahabat sepermainan Drupada di masa kanak-kanak.








Pantaslah kita mengutus Brahmana yang kita percaya untuk menjadi duta kita. Apabila duta kita gagal dalam usahanya meyakinkan Duryodhona, kita harus siap meng-hadapi perang yang tak dapat dihindari.

“Saudara-saudara yang tercinta, kirimkan berita kepada kami. Dan... terima kasih!”

Sidang Agung itu ditutup. Krishna kembali ke Dwaraka bersama para kerabat dan pengiringnya; begitu pula Bala-dewa alias Balarama atau Balabhadra, kakaknya.

Sepeninggal mereka, Pandawa sibuk mempersiapkan diri. Mereka mengirim utusan-utusan kepada sanak-sau-dara dan sahabat-sahabat mereka. Mereka juga memper-siapkan pasukan perang dengan sebaik-baiknya.

Di pihak Kurawa, Duryodhona dan saudara-sauda-ranya juga sibuk mempersiapkan diri. Mereka tak tinggal diam. Mereka juga mengirim utusan kepada sahabat-saha-bat dan sekutu-sekutu mereka.

Berita persiapan mereka segera tersebar ke seluruh negeri, bahkan ke seluruh dunia. Para utusan kedua belah pihak sibuk ke sana kemari. Bumi bergetar diinjak- injak ribuan pasukan Kurawa dan Pandawa yang giat berlatih untuk menghadapi perang.



0 comments:

Recents